
PT HENING ARTHA WISESA
LEGACY INDONESIA
Investment Advisory & Facilitation I Site Assessment & Project Coordination I
Licensing & Regulatory Compliance I Environmental Permits & AMDAL I
Legal & Corporate Advisory I Government Relations I Business Establishment
MANDARIN EDUCATION I TAIWAN STUDY & INTERNSHIP CONSULTING
since 2014

Ani L
13 Agu 2026
Sekitar 7,22 juta penganggur di Indonesia, sebanyak 1,03 juta orang atau sekitar 14,31 persen merupakan lulusan D4, S1, S2, dan S3.
Jakarta, 13 Agustus 2026 — Tingginya pendidikan formal ternyata belum secara otomatis menjamin seseorang dapat terserap ke dunia kerja. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas Mei 2026 menunjukkan bahwa dari sekitar 7,22 juta penganggur di Indonesia, sebanyak 1,03 juta orang atau sekitar 14,31 persen merupakan lulusan D4, S1, S2, dan S3.
Angka tersebut menjadi peringatan penting bahwa tantangan pembangunan sumber daya manusia Indonesia hari ini tidak lagi cukup dijawab dengan meningkatkan jumlah lulusan perguruan tinggi. Tantangan berikutnya adalah memastikan generasi muda mempunyai kompetensi yang relevan dengan perubahan dunia kerja.
Laporan Labor Market Brief LPEM FEB Universitas Indonesia edisi Juli 2026 juga mengingatkan adanya persoalan overeducation, yaitu ketika seseorang bekerja pada pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi pendidikan yang dimilikinya. LPEM menekankan bahwa perluasan pendidikan tinggi harus berjalan seiring dengan kemampuan pasar kerja menciptakan pekerjaan berketerampilan tinggi dan sesuai dengan kompetensi lulusan.
Kondisi inilah yang membuat Indonesia perlu semakin serius mempersiapkan generasi muda menuju kompetensi yang sering kita sebut sebagai SDM 4.0 dan SDM 5.0.
SDM masa depan tidak cukup hanya memiliki ijazah. Mereka harus mempunyai kemampuan teknologi dan digital, keterampilan praktis, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, komunikasi, kemampuan beradaptasi, serta kemampuan bekerja bersama manusia dari latar belakang yang berbeda.
Salah satu kompetensi yang semakin penting adalah kemampuan komunikasi lintas bahasa dan lintas budaya.
Di tengah semakin terbukanya hubungan ekonomi Indonesia dengan berbagai negara Asia dan dunia, kemampuan berbahasa asing—terutama Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris—tidak seharusnya lagi hanya dipandang sebagai mata pelajaran tambahan. Bahasa adalah alat untuk membuka akses terhadap pendidikan, teknologi, pengetahuan, jaringan internasional, dunia industri, dan kesempatan kerja global.
“Kita tidak ingin anak-anak Indonesia hanya mengejar gelar. Kita ingin mereka mengejar kompetensi. Gelar akademik harus berjalan bersama kemampuan bahasa, keterampilan profesional, pengalaman internasional, kemampuan beradaptasi, dan keberanian memasuki dunia kerja global.”
Semangat inilah yang terus dibangun melalui Legacy Indonesia Integrated Academy, dengan memberikan pendidikan bahasa sekaligus membantu generasi muda dan orang tua di Indonesia mendapatkan informasi yang benar mengenai kesempatan pendidikan di luar negeri, khususnya Taiwan dan Tiongkok.
Program pendidikan ke Taiwan dan Tiongkok tidak semata-mata dipandang sebagai upaya mengirim anak untuk bersekolah di luar negeri. Lebih jauh, proses tersebut diarahkan untuk membantu siswa memperoleh pengalaman hidup dalam lingkungan internasional, memperkuat Bahasa Mandarin, memahami budaya yang berbeda, meningkatkan kemandirian, membangun jaringan internasional, serta mengenal dunia pendidikan dan industri secara lebih luas.
Kami ingin membantu setiap calon siswa dan keluarga untuk memahami terlebih dahulu sebelum memutuskan: sekolah apa yang akan dituju, jurusan apa yang dipelajari, bagaimana kehidupan di negara tujuan, kemampuan bahasa apa yang harus dipersiapkan, bagaimana budaya belajar dan bekerja, berapa biaya yang diperlukan, hingga peluang pengembangan diri setelah menyelesaikan pendidikan.
Karena pendidikan ke luar negeri tidak boleh sekadar menjadi tren. Pendidikan harus menjadi investasi kompetensi.
Indonesia memiliki bonus demografi dan jumlah generasi muda yang sangat besar. Namun jumlah tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila diikuti peningkatan kualitas manusia.
Karena itu, menghadapi revolusi industri, artificial intelligence, otomatisasi, dan perubahan peta ekonomi dunia, sudah saatnya paradigma kita berubah:
Bukan lagi sekadar “Kuliah di mana?”
Tetapi:
“Kompetensi apa yang akan saya miliki setelah lulus?”
“Bahasa apa yang saya kuasai?”
“Apakah saya mampu bekerja bersama masyarakat internasional?”
“Apakah saya memahami teknologi?”
“Dan apakah saya mempunyai kemampuan nyata yang dibutuhkan dunia kerja?”
Data 1,03 juta lulusan pendidikan tinggi yang masih menganggur seharusnya tidak membuat generasi muda takut untuk kuliah. Sebaliknya, angka tersebut harus menjadi alarm agar pendidikan kita semakin dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat, industri, teknologi, dan pasar kerja.
Kita tetap harus sekolah. Kita tetap harus kuliah. Tetapi kita juga harus membangun kompetensi.
Belajar bahasa.Belajar teknologi.Belajar berkomunikasi.Belajar bekerja.Belajar memahami budaya lain.Dan berani membangun jaringan sampai ke tingkat internasional.
Karena masa depan Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak sarjana. Indonesia membutuhkan lebih banyak manusia yang kompeten, adaptif, berwawasan global, tetapi tetap memiliki semangat untuk kembali membangun bangsanya.
