top of page

Pendidikan di Era AI

Hengky

5 Sep 2025

Dari Pembelajaran Satu Arah Menuju Pemberdayaan SDM

Pendahuluan


Mungkin ada yang menilai pandangan ini terlalu idealis, bahkan terkesan bermimpi. Namun, kenyataannya kita sedang berada pada titik sejarah di mana sistem pembelajaran tradisional yang satu arah—guru berbicara, murid mendengar—sudah tidak lagi relevan. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) dan laju perkembangan teknologi yang begitu pesat menuntut perubahan paradigma besar dalam pendidikan maupun dunia usaha.

Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara lama untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan yang sepenuhnya berbeda dengan hari ini.


Transformasi Teknologi: Dari AI ke Biologi Sintetis


Kemajuan teknologi tidak berhenti pada chatbot pintar atau mobil tanpa sopir. Justru, perkembangan paling revolusioner terjadi di titik temu antara AI dan biologi.

Pada tahun 2020, para peneliti memperkenalkan Xenobots—robot mini berukuran milimeter yang dibuat dari sel katak. Uniknya, robot ini mampu bergerak, bekerja sama, dan bahkan menyembuhkan dirinya sendiri. Lebih jauh, muncul pula konsep Organoid Intelligence (OI), yaitu pemanfaatan otak mini dari sel manusia sebagai substrat komputasi.

Dua contoh ini bukan sekadar eksperimen laboratorium; keduanya menjadi penanda bahwa batas antara kecerdasan buatan dan kehidupan biologis semakin kabur. Jika pendidikan masih berkutat pada ceramah satu arah, bagaimana mungkin kita mampu menyiapkan manusia menghadapi dunia yang berubah sedemikian cepat?


Krisis Relevansi Pendidikan Satu Arah


Model pendidikan satu arah mungkin relevan pada abad ke-20, ketika akses informasi terbatas dan guru menjadi sumber utama pengetahuan. Namun, kini informasi tersedia dalam hitungan detik. Murid dapat menanyakan apa pun kepada mesin pencari atau AI, dan dalam sekejap memperoleh jawaban yang jauh lebih cepat dibandingkan penjelasan konvensional di kelas.

Dalam konteks ini, peran guru bukan lagi “pemberi informasi”, melainkan “fasilitator pembelajaran”. Paulo Freire, tokoh pendidikan asal Brasil, pernah mengkritik sistem lama sebagai “banking model of education”, di mana guru hanya “menabungkan” pengetahuan ke dalam diri murid. Menurutnya, pendidikan sejati haruslah membebaskan, dialogis, dan menumbuhkan kesadaran kritis.

Dengan hadirnya AI, kritik Freire terasa semakin relevan. Alvin Toffler, futuris terkenal, juga pernah menyatakan:

“The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”Kebutaan abad ini bukan lagi soal huruf, melainkan ketidakmampuan beradaptasi dengan perubahan.

Implikasi bagi Dunia Usaha dan Pemberdayaan SDM


Perubahan teknologi ini juga membawa dampak besar bagi dunia usaha. Tidak ada satupun sektor yang benar-benar kebal dari disrupsi. Mulai dari pendidikan, kesehatan, perdagangan, hingga layanan publik, semua menghadapi tekanan untuk beradaptasi dengan teknologi baru.

Dalam konteks ini, strategi utama bukan hanya investasi teknologi, tetapi juga investasi pada manusia—sumber daya manusia (SDM). Mesin bisa lebih cepat, lebih pintar, bahkan lebih efisien. Tetapi, nilai tambah utama tetap berada pada manusia yang mampu berpikir kritis, memimpin, berinovasi, dan berempati.

Oleh karena itu, setiap lini usaha yang sedang kami jalankan maupun yang akan dirintis, senantiasa menitikberatkan pada fungsi pemberdayaan SDM. Prinsip ini bukan jargon, tetapi menjadi arah strategis yang kami terapkan mulai dari staf, guru, hingga murid.


Pemberdayaan dalam Tiga Elemen: Staf, Guru, Murid


  1. Staf

    • Staf bukan sekadar pekerja administratif. Mereka perlu dibekali keterampilan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman, seperti literasi digital, analitik data, atau bahkan kemampuan dasar memanfaatkan AI.

    • Dengan begitu, staf tidak lagi menjadi roda pasif, melainkan motor penggerak inovasi organisasi.

  2. Guru

    • Peran guru perlu ditransformasi dari “penyampai ilmu” menjadi “desainer pengalaman belajar”.

    • Guru bukan lagi orang yang harus tahu segalanya, melainkan orang yang mampu menuntun murid menemukan jawaban, mengajukan pertanyaan kritis, dan menghubungkan ilmu dengan kehidupan nyata.

  3. Murid

    • Murid adalah pusat dari proses pembelajaran.

    • Mereka perlu dilatih untuk menjadi pembelajar mandiri, kreatif, serta mampu bekerja sama lintas disiplin.

    • Pendidikan harus memberi ruang bagi mereka untuk gagal, mencoba lagi, dan menemukan solusi baru—sebuah keterampilan yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar menguasai rumus atau teori.


Tantangan dan Kesempatan


Tentu saja, perubahan ini tidak mudah. Sistem pendidikan kita masih sangat terikat pada pola lama. Guru dibebani kurikulum yang kaku, murid dituntut mengejar nilai ujian, sementara dunia nyata menuntut kompetensi yang jauh lebih kompleks.

Namun, di balik tantangan ini ada peluang besar. Jika kita mampu mengubah orientasi pendidikan dan dunia usaha ke arah pemberdayaan manusia, maka kita tidak hanya akan memiliki tenaga kerja yang siap menghadapi teknologi, tetapi juga generasi yang mampu memimpin teknologi itu sendiri.

Seperti yang pernah dikatakan Steve Jobs:

“Innovation distinguishes between a leader and a follower.”Pendidikan yang berani berubah akan melahirkan generasi pemimpin, bukan sekadar pengikut teknologi.

Penutup

Dunia sedang bergerak menuju era di mana kecerdasan buatan dan biologi sintetis saling bersinggungan. Xenobots dan Organoid Intelligence hanyalah awal dari perjalanan panjang itu.

Di tengah perubahan besar ini, kita tidak boleh terjebak pada model pembelajaran lama yang satu arah. Fokus utama haruslah pemberdayaan SDM—staf, guru, dan murid—agar mereka memiliki kapasitas untuk beradaptasi, berinovasi, dan memimpin.


Jika kita berani mengambil langkah itu sekarang, maka mimpi tentang pendidikan yang relevan dengan masa depan tidak lagi sekadar idealisme kosong, melainkan sebuah kenyataan yang sedang kita bangun bersama.


Hengky Albert Waroka Tjia

bottom of page