
印尼傳承
LEGACY INDONESIA
Higher Education Consultant


since 2014

friska
5 Mei 2026
Kuasai bahasanya sebelum ke negaranya
Jakarta — Taiwan selama ini menjadi salah satu tujuan pendidikan yang menarik bagi pelajar Indonesia. Selain kualitas pendidikan yang baik, Taiwan juga dikenal sebagai negara yang aman, tertib, ramah terhadap pendatang, serta memberi ruang bagi pelajar asing untuk belajar hidup mandiri.
Namun, di balik peluang tersebut, muncul kekhawatiran terhadap fenomena pelajar Indonesia yang berangkat ke Taiwan dengan kemampuan bahasa Mandarin yang sangat minim, terutama dalam program sekolah sambil kerja. Hal ini menjadi perhatian Hengky Albert Waroka Tjia, CEO LegacyIndonesia.org, lembaga pendidikan bahasa Mandarin yang aktif mendampingi calon pelajar Indonesia sebelum berangkat ke Taiwan.
Menurut Hengky A.W, sekolah atau kuliah ke Taiwan pada dasarnya adalah pilihan yang baik. Akan tetapi, persiapan bahasa tidak boleh dianggap sebagai pelengkap semata.
“Kalau ingin belajar di Taiwan, jangan hanya memikirkan berangkatnya. Pikirkan juga bagaimana anak itu bertahan, belajar, beradaptasi, bekerja, dan menjaga martabat dirinya di sana. Kuncinya adalah bahasa,” ujar Hengky. A.W
Berikut Wawancara salah satu media dengan Hengky Albert Waroka Tjia, CEO LegacyIndonesia.org
Pewawancara:Menurut Anda, apa kelebihan Taiwan sebagai tujuan pendidikan bagi pelajar Indonesia?
Hengky A.W:Taiwan adalah tempat yang sangat baik untuk belajar. Sistem pendidikannya cukup rapi, masyarakatnya relatif aman, dan lingkungan hidupnya mendukung pelajar untuk menjadi lebih mandiri. Anak-anak Indonesia yang sekolah atau kuliah di Taiwan bisa belajar banyak hal, bukan hanya ilmu di kelas, tetapi juga disiplin, tanggung jawab, budaya kerja, dan cara hidup yang lebih mandiri.
Saya sendiri melihat Taiwan sebagai tempat yang memberi kesempatan. Banyak anak muda Indonesia yang setelah ke Taiwan menjadi lebih dewasa, lebih berani, dan lebih terbuka terhadap dunia internasional.
Pewawancara: Bagaimana pandangan Anda tentang masyarakat Taiwan terhadap pelajar Indonesia?
Hengky A.W: Secara umum masyarakat Taiwan cukup ramah dan terbuka. Mereka menghargai orang yang mau belajar, bekerja keras, dan berusaha menyesuaikan diri. Tetapi kita juga harus jujur, hubungan sosial tidak bisa dibangun hanya dengan niat baik. Bahasa adalah jembatan utama.
Kalau seorang pelajar tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, dia akan kesulitan memahami pelajaran, instruksi kerja, aturan sekolah, bahkan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya, anak itu bisa merasa terasing, minder, atau hanya bergaul dalam lingkaran yang sangat terbatas.
Pewawancara: Judul wawancara ini adalah “Pentingnya Menguasai Bahasa Mandarin Sebelum Sekolah ke Taiwan”. Mengapa menurut Anda hal ini sangat penting?
Hengky A.W: Karena bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah alat untuk bertahan hidup, belajar, memahami budaya, dan memperjuangkan hak diri sendiri.
Banyak orang berpikir, “Nanti juga bisa belajar setelah sampai di Taiwan.” Pendapat itu tidak sepenuhnya salah, tetapi sangat berisiko kalau kemampuan awalnya terlalu rendah. Apalagi kalau anak tersebut masuk ke lingkungan sekolah atau kerja yang semuanya menggunakan bahasa Mandarin.
Kalau kemampuan bahasanya terlalu minim, anak bukan hanya tertinggal di kelas, tetapi juga rentan dalam lingkungan kerja. Dia bisa tidak memahami kontrak, aturan, instruksi keselamatan, atau hak dan kewajibannya. Ini yang menurut saya berbahaya.
Pewawancara: Saat ini cukup banyak promosi program sekolah sambil kerja ke Taiwan. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?
Hengky A.W: Saya ingin menegaskan dulu: sekolah sambil kerja bukan sesuatu yang salah. Bahkan bagi sebagian anak, itu bisa menjadi jalan untuk mandiri secara finansial dan memperoleh pengalaman hidup yang berharga.
Yang menjadi masalah adalah ketika program tersebut dipromosikan secara terlalu manis, seolah-olah semua anak pasti berhasil, padahal kemampuan bahasa, usia, kesiapan mental, dan tujuan pendidikan mereka belum benar-benar dipertimbangkan.
Ada fenomena di mana anak usia sekitar 18 tahun, yang sebenarnya di Indonesia sudah berada pada usia lulus SMA/SMK, dipromosikan untuk kembali duduk di bangku SMK di Taiwan. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian dari mereka berangkat dengan kemampuan Mandarin yang sangat dasar, bahkan masih jauh dari
cukup untuk mengikuti pelajaran dan kehidupan kerja di Taiwan.
Pewawancara: Anda cukup kritis terhadap agen atau pihak yang mempromosikan program ini. Apa yang menjadi kekhawatiran utama Anda?
Hengky A.W: Saya tidak ingin menyerang siapa pun secara pribadi. Tetapi saya merasa perlu menyampaikan kritik terhadap pola promosi yang tidak utuh dan tidak jujur terhadap risiko.
Banyak pihak menggunakan label “unit rekomendasi” atau sejenisnya untuk memberi kesan resmi dan meyakinkan. Tetapi pertanyaannya: apakah anak-anak ini benar-benar disiapkan sebagai pelajar? Apakah mereka dibekali bahasa Mandarin yang cukup? Apakah orang tua benar-benar memahami bahwa anak mereka akan menghadapi beban belajar sekaligus kerja?
Kalau anak berangkat dengan kemampuan bahasa yang sangat minim, lalu di Taiwan harus bekerja untuk membayar biaya pendidikan dan kehidupannya sendiri, maka kita perlu bertanya secara serius: apakah ini benar-benar program pendidikan, atau justru berisiko menjadi skema kerja yang dibungkus dengan label sekolah?
Pewawancara: Pernyataan itu cukup tajam. Apakah maksud Anda para pelajar ini lebih mirip pekerja migran?
Hengky: Saya tidak mengatakan semua seperti itu. Tetapi kita harus berani melihat kenyataan di lapangan. Ketika beban kerja menjadi dominan, ketika kemampuan akademik dan bahasa tidak cukup, ketika anak harus membayar biaya pendidikan dari hasil kerja kerasnya sendiri, sementara ilmu dan keahlian yang diperoleh tidak sebanding, maka kekhawatiran itu wajar muncul.
Mereka datang dengan status pelajar, tetapi dalam praktiknya bisa saja mengalami tekanan seperti pekerja migran. Bedanya, mereka masih sangat muda, belum matang secara mental, dan tidak selalu memahami sistem perlindungan yang tersedia.
Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan administrasi pendidikan. Ini persoalan masa depan anak Indonesia.
Pewawancara: Menurut Anda, apa standar minimal yang ideal sebelum anak berangkat ke Taiwan?
Hengky A.W: Minimal mereka harus memiliki kemampuan Mandarin yang benar-benar fungsional. Bukan hanya bisa menghafal kosakata atau menjawab soal ujian dasar, tetapi mampu memahami instruksi guru, bertanya ketika tidak mengerti, berkomunikasi di lingkungan kerja, membaca informasi penting, dan menyampaikan masalah yang mereka hadapi.
Kalau hanya berangkat dengan kemampuan bahasa yang sangat dasar, itu seperti menyuruh anak berenang di laut tanpa benar-benar mengajarinya berenang. Bisa saja dia selamat, tetapi risikonya terlalu besar.
Pewawancara: Apa saran Anda untuk orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Taiwan?
Hengky A.W: Pertama, jangan hanya tergiur janji bisa sekolah sambil kerja. Tanyakan dengan jelas: sekolahnya di mana, biayanya berapa, jam kerjanya seperti apa, kemampuan bahasa minimalnya apa, siapa yang mendampingi anak kalau ada masalah, dan apa prospek setelah lulus.
Kedua, siapkan bahasa Mandarin sebelum berangkat. Jangan menunggu sampai anak tiba di Taiwan baru mulai belajar serius. Itu terlambat.
Ketiga, lihat apakah anak benar-benar cocok dengan jalur tersebut. Tidak semua anak harus masuk program sekolah sambil kerja. Ada yang lebih cocok kuliah, ada yang lebih cocok kursus bahasa dulu, ada juga yang sebaiknya mematangkan diri di Indonesia sebelum berangkat.
Pewawancara: Jadi, apakah Anda tetap merekomendasikan sekolah atau kuliah ke Taiwan?
Hengky A.W: Tentu. Saya tetap percaya Taiwan adalah salah satu tujuan pendidikan yang baik. Banyak peluang di sana. Anak Indonesia bisa belajar, berkembang, mandiri, dan membangun masa depan yang lebih luas.
Tetapi keberangkatan ke Taiwan harus dimulai dari persiapan yang benar. Jangan jadikan anak hanya sebagai angka keberangkatan. Jangan jadikan pendidikan sebagai bungkus dari kepentingan ekonomi. Kalau memang tujuannya pendidikan, maka bahasa, perlindungan, kualitas sekolah, dan masa depan anak harus menjadi prioritas utama.
Pewawancara: Apa pesan terakhir Anda untuk calon pelajar Indonesia yang ingin ke Taiwan?
Hengky A.W: Bermimpilah setinggi mungkin, tetapi jangan berangkat tanpa bekal. Taiwan bisa menjadi tempat yang sangat baik untuk membangun masa depan, asalkan kalian datang dengan persiapan yang kuat.
Kuasai bahasanya sebelum belajar ke negaranya. Karena di luar negeri, kemampuan bahasa bukan hanya membuat kalian pintar, tetapi juga membuat kalian lebih aman, lebih percaya diri, dan lebih dihargai.
“Pergi ke Taiwan bukan sekadar soal bisa berangkat. Yang lebih penting adalah bagaimana anak Indonesia bisa bertahan, belajar dengan baik, bekerja dengan bermartabat, dan pulang membawa ilmu, bukan hanya lelah dan secarik kertas ijasah yang nantinya juga hanya dijadikan sebagai referensi kerja di dunia nyata,” tutup Hengky.A.W